Thursday, March 7, 2013

perkembangan neurosains kognitif


Helloooooo kawan semua, kali ini saya mau nge-share nih tentang “neurokognitif”. Sebenernya ini adalah tugas kelompok guys yang harus di kerjakan bersama-sama dengan penuh gotong royong (kaya kerja bakti ya hehe..). Dengan melewati segala perjuangan membaca buku dan sejumlah artikel di internet, akhirnya saya nada salsabila, sitta ekianasari, endah ayu, dyah ayu dan nur wildayani dapat menyelesaikan makalah kelompok kami. Penasaran dengan makalah yang kami buat?  Ok, langsung aja di baca guys makalah kami ini :D

 

BAB I

PENDAHULUAN


I.             Latar belakang
Sebagian besar kegemparan dalam psikologi kognitif ditimbulkan oleh perkembangan sebuah disiplin ilmu yang menggabungkan psikologi kognitif dengan neurosains, yakni ilmu neurosains kognitif. Disiplin ilmu mendapatkan namanya (neuro sains kognitif) pada akhir tahun 1970an dikursi belakang sebuah taksi di New York. Michael Gazzaniga, seorang tokoh dalam penelitian kedua hemisfer otak, sedang berada di dalam taksi bersama George Miller, seorang psikologi kognitif terkemuka. Keduanya sedang dalam perjalanan untuk menghadiri acara makan malam bagi para ilmuwan dari Universitas Rockefeller dan Universitas Cornell (para ilmuwan tersebut “pikiran“). Acara makan malam itu sendiri belum memiliki suatu topik khusus. Dalam pembicaraan di taksi itu lahirlah istilah “neurosains kognitif” (cognitive neuroscience). 
II.           Perumusan masalah
1.      Apakah prinsip dasar yang melandasi neurosains kognitif?
2.      Apakah hubungan antara neurosains dan psikologi kognitif?
3.      Apa saja bagian-bagian utama sistem saraf pusat?
4.      Apa saja anatomi dasar dan fungsi-fungsi otak?
5.      Bagaimana penelitian-penelitian awal tentang otak akhirnya memberikan pemahaman tentang lokalisasi fungsi-fungsi otak?
III.         Tujuan penulisan
1.      Mengetahui prinsip dasar yang melandasi neurosains kognitif
2.      Mengetahui hubungan antara neurosains dan psikologi kognitif
3.      Mengetahui bagian-bagian utama sistem saraf pusat
4.      Mengetahui anatomi dasar dan fungsi-fungsi otak
5.      Mengetahui penelitian-penelitian awal tentang otak akhirnya memberikan pemahaman tentang lokalisasi fungsi-fungsi otak


BAB II

ISI

Neurosains kognitif adalah sebuah bidang akademis yang mempelajari secara ilmiah substrat biologis dibalik kognisi (Gazzaniga et al, 2002), dengan fokus khusus pada substrat syaraf dari proses mental. Ia membahas pertanyaan bagaimana fungsi psikologis/kognitif dihasilkan oleh otak. Neurosains kognitif adalah cabang psikologi maupun neurosains, bertindihan dengan disiplin seperti psikologi fisiologis, psikologi kognitif dan neuropsikologi (Gazzaniga et al, 2002 : xv).
a.    Teori Neurosains
Neurologi dimulai ketika Cajal, Ilmuwan Spanyol (pemenang Nobel 1906) menemukan 4 doktrin neuron sebagai berikut:
·         Sel saraf, sebagai unit sinyal dan blok pembentuk dasar otak disebut neuron
·         Terminal axon, menyampaikan informasi ke dendrit sel lain di sinepsi, yaitu celah antara axon dengan dendrit sel lain
·         Neuron, membentuk sinapsi dan berkomunikasi dengan sel saraf tertentu saja
·         Sinyal dalam neuron, berjalan ke satu arah saja, yaitu dari dendrit ke badan sel, axon, presinaptik, menyebrang celah sinaptik, dan dendrit sel berikutnya
Charles Sherrigon menemukan bahwa neuron tidak hanya dapat bersifat aktif, tapi juga ada yang menggunakan terminal untuk menghentikan sel penerima menyampaikan informasi, atau bersifat penghambat
Luigi Galvani (1971) dan Herman Von Helmhotz (1859) menemukan bahwa terdapat aktivitas listrik pada sel-sel otot binatang dan bahwa axon menggunakan listrik sebagai alat untuk menyampaikan informasi sensorik dari luar ke spinal cord (urat saraf tulang belakang) dan otak perintah otak ke otot.
Edgar Douglas Adrian ( pemenang Nobel 1932 dengan Sherrigon ) menemukan bahwa bentuk, amplitude dan kekuatan energi potensial yang dihasilkan satu sel syaraf adalah sama, yang membedakannya hanya insensitasnya. Dengan demikian suatu stimlus yang kuat dari infosensorik akan meningkatkan jumlah energi potensial perdetik.
Bernstein ( 1920 ) menunjukan bahwa energi potensial ditimbulkan oleh perbedaan ion antara yang terdapat di dalam dan diluar selaput sel, karena selaput sel memiliki saluran ( channel ) yang memungkinkan ion potassium positif mengalir dari dalam sel dalam membrane ion negative.
Bedasarkan penelitian terhadap neuron cumi, Alan Hodgkin dan Huxley ( pemenang Nobel 1963 ) dan Katz menemukan baha energi potensial terbentuk karena masuknya ion sodium positif mengubah voltase internal sel dan menghasilkan upstroke, pada saat  hampir sama saluran potassium terbuka dan ion potassium kelur dari sel, menhasilkan downstroke sehingga sel kembali pada voltase semula. Setiap energi potensial menjadi sel punya lebih banyak sodium di dalam , namun dikurangi dengan adanya protein yang mengangkut kelebihan ion sodium keluar. Setiap energi potensial menghasilkan aliran yang mengatifkan wilayah sebelahnya secara berantai, dengan cara ini maka sinyal dari pengalaman isual, motorik, pikiran atau memori dikirim dari satu neuron lainnya.
b.    Analisis Masalah
Sistem Saraf Pusat (Central Nervous System/CNS)
CNS terdiri dari tulang belakang dan otak. Unsur dasar pembentukan CNS adalah neuron, sebuah sel khusus yang mengirimkan informasi sepanjang sisitem saraf.
Otak manusia tersusun dari massa neuron-neuron yang sangat padat. Beberapa ahli memperkirakan jumlah neuron dalam otak manusia melebihi 100miliar (kira-kira sama dengan jumlah bintang di Galaksi Bimasakti). Setiap neuron mampu menerima dan mengirimkan implus neuron ke ribuan neuron lain. Sistem ini lebih rumit daripada seluruh sistem di alam semesta ini. Setiap inci korteks serebral manusia berisi sekitar 10.000 mil neuron, yang saling menghubungkan sel-sel (Blakemore,1977). Pada setiap saat, sejumlah besar neuron kortikel berada dalam kondisi aktif dan asumsikan bahwa fungsi-fungsi kognitif seperti persepsi, berpikir, kecerdasan, dan memori, kesemuanya dilaksanakan dengan penembakan neuron0neuron secara serempak sepanjang jaringan neuron yang rumit itu.
Neuron
Para ahli memperkirakan bahwa terdapat ribuan jenis neuron yang berbeda (Kandel, Schwartz, dan Jessell,1991). Setiap jenis neuron menjalankan fungsi tertentu dalam lokasi yang berbeda.
Terdapat empat bagian utama dalam neuron :
a.       Dendrit menerima impuls neural dari neuron lain. Dendrit berbentuk seperti pohon (Arborized), lengkap dengan cabang dan ranting.
b.      Tubuh sel bertanggungjawab menjaga kondisi dasar neuron. Tubuh sel (cell body) menerima nutrisi dan melenyapkan limbah organik dengan menyaring limbah tersebut melalui dinding sel yang permeabel.
c.       Akson (axon) sebuah jalur panjang berbentuk tabung yang menghubungkan tubuh sel dengan sel-sel lain melalui semacam persimpangan yang disebut sinapsis. Akson-akson dalam otak mungkin berukuran mikroskopis, namun dapat pula mencapai panjang 1meter atau lebih. Akson-akson besar dikelilingi oleh substansi berlemak yang disebut selubung myelin (meilin sheath), yang berperan sebagai insulator yang mempercepat transmisi impuls neural.  
d.      Terminal prasinaptik bersama-sama dendrit membentuk sinapsis. Terminal-terminal ini terletak dekat permukaan dendrit pada neuron lain (yang bersifat reseptif).
Jaringan neural sejak kelahiran hingga usia 2 tahun. Bayi yang baru lahir telah memiliki seluruh neuron, namun hubungan antara neuron tersebut belum lengkap dan terus bertumbuh. Jumlahnya bisa mencapai miliaran.
Anatomi Otak
Para ahli anatomi zaman dahulu menemukan struktur dan fungsi organ-organ binatang maupun manusia dengan melakukan pembedahan pada binatang atau manusia yang telah menjadi mayat. Melalui pembedahan, para ahli tersebut dapat dengan leluasa mengamati berbagai organ yang memiliki bermacam-macam bentu, dan mereka menerka fungsi suatu organ berdasarkan bentuknya. Sebagai contoh, organ yang berbentuk seperti tabung (misalnya usus atau pembuluh darah) diasumsikan mengangkut zat-zat dalam tubuh. Organ yang berbentuk seperti kantong (seperti lambung atau kandung kemih) diasumsikan sebagai media penyimpanan. Penelitian awal ini menghasilkan beragam informasi berharga mengenai struktur dan fungsi tubuh. Meskipun demikian, para peneliti tersebut menemukan tantangan lain ketika mempelajari otak. Ketika mereka membedah tempurung kepala manusia, mereka menemukan otak-suatu massa yang lunak, terbagi menjadi dua belahan, penuh lekukan-lekukan. Tidak didapati adanya struktur yang keras dalam otak yang lunak tersebut, dan hanya sedikit bagian yang dapat diidentifikasi. Bahkan struktur otak yang dapat dibedakan dengan struktur otak yang lain pun tidak memberikan petunjuk mengenai fungsinya. Meski demikian, studi yang mendalam akhirnya menemukan berbagai struktur yang berbeda.
Korteks Serebral lapisan halus dan tipis yang dipadati oleh kelompok-kelompok sel—menjalankan fungsi-fungsi yang oleh orang awam dianggap sebagai “fungsi otak”. Dalam kenyataannya, kognisi (persepsi, memori, pemecahan masalah, pemrosesan bahasa) melibatkan banyak area di otak, dan perlu diingat bahwa berbagai struktur tubuh dan kognitif yang penting dan rumit bergantung pada bagian-bagian otak yang lain.
Lobus-lobus di Korteks Serebral dibagi menjadi empat bagian utama, yang ditandai oleh celah-celah (fissures) utama. Keempat area ini adalah lobus frontal, temporal, parietal, dan oksipital (Gambar diatas). Meskipun setiap lobus diasosiasikan dengan fungsi-fungsi tertentu, para ahli meyakini bahwa sebagian besar fungsi terdistribusi di seluruh otak.
Lobus Frontal. Bagian ini terlibat dalam pengendalian impuls, pertimbangan (judgment), pemecahan masalah, pengendalian dan pelaksanaan perilaku, dan pengorganisasian yang kompleks.
Lobus Temporal. Bagian ini memproses sinyal-sinyal auditori, pendengaran, pemrosesan auditori tingkat tinggi (bicara), pengenalan wajah.
Lobus Parietal. Bagian ini mengintegrasikan informasi sensoris dari pancaindera, pemanipulasi objek, pemrosesan visual-spasial.
Lobus Oksipital. Bagian ini terlibat dalam pemrosesan visual, yakni menerima informasi visual dari retina, memproses informasi tersebut dan mengirimkannya ke area-area yang relevan. Lobus oksipital disebut juga korteks striat.


BAB III

KESIMPULAN

Pembelajaran berbasis kemampuan otak (neuroscience) adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain alamiah untuk belajar (apa saja yang baik bagi otak).
Sebagai suatu teori pembelajaran berbasis kemampuan otak (Neuroscience), tentu saja memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan-kelebihannya adalah sebagai berikut:
1.    Memberikan suatu pemikiran baru tentang bagaimana otak manusia bekerja.
2.    Memperhatikan kerja alamiah otak si pebelajar dalam proses pembelajaran.
3.    Menciptakan iklim pembelajaran dimana pebelajar dihormati dan didukung.
4.    Menghindari terjadinya pemforsiran terhadap kerja otak.
5.    Dapat menggunakan berbagai model-model pembelajaran dalam mengaplikasikan teori ini.
Dan kelemahan-kelemahannya adalah sebagai berikut:
1.      Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya mengetahui tentang teori ini (masih baru).
2.      Memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk dapat memahami (mempelajari) bagaimana otak kita bekerja.
3.      Memerlukan biaya yang tidak sedikit dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang baik bagi otak.
4.      Memerlukan fasilitas yang memadai dalam mendukung praktek pembelajarant teori ini

Daftar Pustaka

L.Solso, Robert, dkk. Psikologi Kognitif (8th,ed).
bahankuliah2010.files.wordpress.com/2010/11/psikologi-kognitif.ppt

No comments:

Post a Comment